KEKUASAAN ADALAH AMANAH


Kekuasaan merupakan amanah, kerana itu ia harus ditunaikan dengan baik. Jika tidak, maka boleh dianggap sebagai satu pengkhianatan. Sedangkan khianat merupakan salah satu cirri orang munafik. Dalam Islam, kekuasaan bukanlah suatu kemewahan  melainkan beban berat yang harus dipikul. Dan tidak sembarang orang mampu untuk memikulnya. Jadi, tidak wajar kiranya apabila kekuasaan itu menjadi barang rebutan.

Kalau kita membaca sejarah kehidupan orang-orang terdahulu, dari kalangan para sahabat dan orang-orang sesudah mereka dari kalangan para ulama, mereka sangat menjauhi pintu penguasa. Sebab, mereka tahu betul risiko yang akan diterima apabila tidak boleh menjalankan amanah kekuasaan dengan baik. Iaitu, diharamkannya syurga bagi orang-orang yang khianat dalam menjalankan kekuasaan yang diberikan kepadanya.

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Tidakkah seorang hamba dijadikan Allah swt sebagai pemimpin bagi orang-orang yang dipimpinnya, kemudian dia meninggal dalam keadaan dia menipu orang-orang yang dipimpinnya, melainkan Allah swt mengharamkan syurga atas dirinya.”

(Riwayat Muslim )

Dalam riwayat Muslim juga disebutkan daripada Ma’qil bin Yasar, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, ‘Tidaklah seorang pemimpin menangani urusan orang-orang Muslim, kemudian dia tidak berusaha bagi kepentingan mereka dan tidak pula memberi nasihat melainkan dia tidak masuk syurga bersama mereka’.”

Pernah suatu hari Abu Dzar r.a berkata kepada Rasulullah s.a.w, “Wahai Rasulullah saw, tidakkah engkau mengangkatku menjadi penguasa?” kemudian Rasulullah s.a.w memukulkan tangannya ke pundak Abu Dzar dan berkata, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini lemah. Dan, sesungguhnya kekuasaan itu pada hari kiamat kelak adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang berhak mendapatkannya dan mampu melaksanakan kewajipannya.” (Riwayat Muslim)

Rasulullah s.a.w pun sangat membenci orang yang meminta-minta kekuasaan dan sangat bernafsu terhadapnya. Abu Musa r.a berkata, “Aku masuk kepada Rasulullah bersama dua orang dari suku bapa saudarakuku. Kemudian berkata salah seorang dari mereka, ‘Wahai Rasulullah s.a.w. jadikanlah aku penguasa atas sebahagian apa-apa yang Allah s.w.t telah berikan kepadamu’. Kemudian laki-laki yang lain berkata seperti itu juga.

Rasulullah s.a.w pun bersabda,

“Sesungguhnya kita, demi Allah swt tidak akan memberikan pekerjaan ini kepada seorang pun yang memintanya dan tidak juga kepada orang yang sangat menginginkannya.”

(Muttafaq ‘Alaih)

Kerana itu, hendaknya kita mengukur kemampuan diri kita. Apabila kita tidak mampu untuk memikul satu amanah, lebih baik kita  menyerahkan urusan itu kepada orang lain yang lebih mampu.

~ oleh Lokman Hashim, Editor - MutiaraIslam Online di Mei 3, 2010.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: